Beranda
Sastra Arab
Tokoh
Amin Haddad: Penyair Mesir Produktif yang Jarang Tersorot Media
Februari 10, 2024

Amin Haddad: Penyair Mesir Produktif yang Jarang Tersorot Media

Amin Haddad: Penyair Mesir Produktif yang Jarang Tersorot Media


Siapakah Amin Haddad? Di dunia sastra Arab, kita mungkin mengenal segelintir penyair kondang seperti Najīb Maḥfūẓ, Maḥmūd Darwīsy, Nizār Qabbānī, atau Kahlil Gibran yang syairnya kerap dikutip dalam membuat quotes dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, tahukah kamu? Masih banyak penyair Arab yang produktif dalam menulis dan menerbitkan karya sastranya hingga saat kini.

Salah satu penyair Arab yang masih produktif ialah Amin Haddad. Ia baru saja meluncurkan kumpulan puisinya yang berjudul Amṭār Khafīfah ilā Mutawassiṭah (Rintik Hujan yang Kian Deras) pada Januari 2024 lalu. Mari berkenalan lebih dekat dengan penyair yang jarang tersorot media ini.

Biografi Amin Haddad

Amin Haddad

Amin Haddad (secara transliterasi: Amīn Ḥaddād) adalah seorang penyair sekaligus insinyur. Ia lahir di Kairo pada Selasa, 16 Septemter 1958. Amin Haddad adalah putra mendiang penyair Fu’ād Ḥaddād dan juga menantu penyair Ṣalāḥ Jāhīn.

Ia lulus dari Fakultas Teknik Jurusan Komunikasi pada tahun 1981 dan memulai kariernya sebagai seorang penyair dengan menulis puisi ketika ia berumur 23 tahun. Kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Rīḥah al-Ḥabāyib (Aroma Para Kekasih) terbit pada tahun 1990. Amin Haddad menempuh perjalanan panjang dalam menentukan aliran dan gaya puisinya agar ia memiliki ciri khas dan pembeda dengan puisi-puisi ayahnya, mengingat ayahnya juga seorang penyair.

Karier Amin Haddad

Amin Haddad merupakan penyair yang produktif. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan 11 koleksi puisi. Koleksi terbarunya adalah Amṭār Khafīfah ilā Mutawassiṭah (Rintik Hujan yang Kian Deras). Salah satu karyanya, Mā Badā Lak, yang diterbitkan oleh Dar El-Shorouk berhasil memenangkan Penghargaan Cavafy Prize kategori puisi pada tahun 2011. Sedangkan kumpulan puisi lainnya yang berjudul al-Waqt Saraqanā (Waktu itu Mencuri Kita) juga memenangkan Penghargaan Cairo International Book Fair Prize pada tahun 2017.

Setelah novel pertamanya mendapat sambutan baik dari khalayak, ia menerbitkan lagi kumpulan puisi dalam bahasa ‘āmiyah Mesir dan bahasa Arab klasik. Beberapa kumpulan puisinya adalah Ḥalāwah al-Rūḥ (1998), fī al-Maut: Ḥan’īsy (2004) yang membahas tentang peristiwa invasi Amerika ke Irak, min al-Waṭan li al-Jannah (2012), dan masih banyak lagi.

Karya-karya Amin Haddad

Berikut ini koleksi-koleksi puisi Amin Haddad:

  1. Mā Badā Lak (1990)
  2. Ḥalāwah al-Rūḥ (1998)
  3. Fī al-Maut: Ḥan’īsy (2004)
  4. Badl Fāqid (2008)
  5. Min al-Waṭan li al-Jannah (2012)
  6. Al-Ḥurriyyah min al-Syuhadā’ (2013)
  7. Rīḥah al-Ḥabāyib (2013)
  8. Jazīrah al-Aḥyā’ (2014)
  9. Al-Waqt Saraqanā (2016)
  10. Salām Mu’aqqat (2019)
  11. Amṭār Khafīfah ilā Mutawassiṭah (2024)

Berikut ini kutipan puisi Amin Haddad Amṭār Khafīfah ilā Mutawassiṭah:

لما دماغك تبقى بعيدة ومش وياك
لما تكون في الخلا مخنوق عايز شباك
وما يبقاش في الدنيا أماكن
هنا مش هنا ولا هنا وهناك
لما القلب يودع ساكن
وصدى الصوت يخبط جواك
اكتب شعر

لما دموعك تبقى بتوجع ما بتنزلش
لما يشاوروا عليك بالتهمة وما تنكرش
لما الدنيا تساوي عدمها
لما النغمة تملا عيونك قبل كلامها
لما تشوف في الصخر مشاعر
اكتب شعر

Ketika pikiranmu melayang jauh, tak lagi bersamamu
Di tempat hampa, engkau tercekik, mendamba jendela
Tak ada lagi tempat tersisa di dunia ini
Di sini bukan di sini, dan di sini bukan di sana
Saat hati pergi dalam diam
Dan gema berdentang di dalammu
Tulislah puisi

Saat air matamu terasa sakit, tak menetes
Saat mereka menuduhmu dan kau tak membantah
Saat dunia tak berarti apa-apa
Saat nada mengisi matamu sebelum ia bersuara
Saat kau melihat perasaan di batu-batu
Tulislah puisi


Ditulis oleh: Ade Surya Prabandari Putri
Disunting oleh: Tafkur Bahril Wahid

Tidak ada komentar